Selasa, 11 September 2012

Batik Toraja

PERJALANAN PANJANG SENI BATIK (1)
TEKNIK MEMBATIK SUDAH ADA SEJAK ABAD KE V DI TANAH PASUNDAN DAN TORAJA
 

Batik bisa disebut produk asli Indonesia, bila ditilik bahwa produk kain yang mengalami proses celup rintang atau proses menahan warn
a ini dikenal sejak abad ke V di Tanah Pasundan dan Tanah Toraja.Dimana pada teknik menghias dengan menahan warna pada batik yang dikenal saat ini adalah dengan menggunakan lilin malam. Proses celup rintang atau menahan warna, adalah proses pelukisan di atas kain menggunakan lilin malam sebagai perintang/penahan warna pada saat kain dicelupkan pada cairan berwarna.

Sebelum batik seperti yang sekarang dikenal ada, yaitu teknik menghias dengan menahan warna/celup rintang memakai lilin malam, di Indonesia sudah dikenal batik dengan teknik lebih sederhana. Cikal bakal batik dapat ditelusuri dari KAIN SIMBUT dari Tanah Pasundan tepatnya di Banten dan KAIN SARITA dari Tanah Toraja di Sulawesi Selatan yang memakai bubur ketan dan lilin lebah sebagai perintang warna.

Kain Simbut, di jaman Kerajaan Tarumanagara, dimana ditemukan artefak (abad ke V) yang menjelaskan tentang teknik menahan warna pada kain simbut, yaitu dengan menggunakan bahan dari bubur ketan. Sebagai penahan warna pada kain simbut dipakai nasi pulut (bubur ketan) yang dilumatkan dan dicampur air gula. Kain lalu dicelupkan ke dalam cairan pewarna yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Kemudian nasi pulut dikerok dan bagian yang ditutupi nasi pulut tetap tinggal putih seperti warna asli kain.

Sementara itu pada abad ke V pula, kain sarita dari Toraja, Sulawesi Selatan, memakai teknik menahan warna selain memakai bubur ketan juga menggunakan bahan dari lilin lebah. Sarita pertama kali dikerjakan di daerah pegunungan yang terisolasi sehingga ada dugaan, Indonesia memiliki cikal bakal batik dari dalam wilayahnya sendiri.

Menurut TT Soerjanto, kurator pada Museum Batik Kuno Danar Hadi (Solo) dan juga mantan Kepala Balai Pengembangan Batik di Yogyakarta bahwa produk kain yang mengalami proses celup rintang ini dikenal sejak abad V di Tanah Pasundan dan Tana Toraja. Setelah menyusuri database ilmiah Pro-Quest, dapatkan satu thesis master yang disubmitted di California State University, oleh Trish Hodge (1999) yg mengurai ringkas sejarah batik (hal 13-19). Mengutip Heringa (1996), konon batik ini diperkenalkan oleh orang India, pada saat Raja Lembu Amiluhur menikahkan putranya dengan putri India, sekitar tahun 700 M. Dalam bagian lainnya, disebut kalau batik dalam bentuk yang lebih primitif justru sudah dimiliki oleh orang Toraja (Tana Toraja, Sulawesi Selatan). Sementara kata “BATIK” itu sendiri baru secara tertulis ditemukan pada tahun 1641 dalam dokumen pengiriman barang dari Batavia (Jakarta) ke Bengkulu, sedangkan menurut pakar batik Belanda, Rouffaer (1914), referensi pertama tentang "batik" ini merujuk ke tahun 1520 (Gittinger, 1985)

Maka wajar bila perjalanan dalam rentang waktu yang cukup panjang, 15 abad, telah menjadikan batik sebagai satu wahana ungkapan dunia pikir atau kosmologi yang pernah hidup di suatu masyarakat. Lebih dari sekadar wahana ungkapan estetik belaka. Melalui batik, masyarakat mengungkapkan dunia pikir yang hidup pada zamannya; yaitu meliputi kepercayaan, mitos, konsepsi penciptaan kehidupan, jagat raya, harmoni hidup, etika, adat istiadat, dan seterusnya.

(Vey/sumber : Iwan Tirta + Museum Batik Kuno Danar Hadi Solo/foto: motif Batik kuno suku Toraja)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar