Selasa, 16 Oktober 2012

* Awal Ide Kampung Batik

Minggu, 06 Mei 2012 | 16:03
Kampung Batik Pal Batu, Jakarta memberi warna dan motif area sekitar dengan nuansa batik.
Melirik Kampung Batik Jakarta
Berusaha melestarikan batik Betawi.

Kampung Batik Laweyan, Solo dan Kampung Batik Trusmi, Cirebon sejak lama dikenal sebagai pusatnya wilayah batik karena daerah-daerah tersebut memiliki perkumpulan perajin dan dijadikan sentra bisnis. Terinspirasi dari wilayah-wilayah tersebut serta keinginan melestarikan batik, 4 orang pencinta batik memprakarsai dibuatnya kampung batik Jakarta.

"Saya yang pertama memiliki ide untuk memulai kampung batik. Setelah berbicara dengan beberapa teman, terbentuklah 4 orang yang memiliki ide untuk membuat kampung batik, yaitu, Iwan Darmawan, Budi Haryanto, Safri, dan saya," tutur Ismoyo W Bimo, salah satu penggagas Kampung Batik Jakarta, Pal Batu, Jakarta, Sabtu (5/5).

Di tahun 2010,  keempatnya bertemu dan membuat perencanaan atau rancangan awal dari kampung batik. Setelah mencari lokasi-lokasi tepat di sana-sini, keempatnya setuju, daerah Pal Batu adalah lokasi paling tepat. 

"Daerah ini dekat dengan sentra-sentra batik Jakarta di zaman dulu; Tanah Abang, Bendungan Hilir, Thamrin, Palmerah, dan sekitarnya. Daerah ini menurut kami adalah yang paling pas. Apalagi wilayah perumahannya masih cukup dekat, tidak banyak industri yang tumbuh, serta masyarakatnya juga dekat satu sama lain," jelas Bimo kepada Beritasatu.com. 

Sejak setahun lalu, wilayah ini menyelenggarakan acara bertajuk Jakarta Batik Carnival. Sebuah ajang 2 hari yang ditujukan untuk "mengeksplorasi potensi batik menjadi suatu tampilan menarik dan dirancang dengan event karnaval massal," begitu tulisan di situsnya. 

Kampoeng Batik ini berharap bisa menjadi sentra pengrajin batik Betawidan tujuan alternatif belanja kain batik. Dengan harapan bisa mendukung pemberdayaan masyarakat serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi rakyat, lanjutan keterangan tentang gerakan ini. 

"Sebenarnya ini berdasar kecintaan kami terhadap batik. Kami ingin melestarikan batik. Sejak lama saya, yang kolektor batik, mencari tahu tentang batik. Lalu dari sana saya menemukan, Jakarta memiliki batiknya sendiri, dengan ciri khas tumpal dan motif ondel-ondel, monas, dan lainnya," ujar Bimo yang mengaku tergabung dalam komunitas Batik Banget.

Jakarta Batik Carnival kali pertama dilaksanakan pada tanggal 21-22 Mei 2011. Tahun ini, JBC diselenggarakan pada tanggal 5-6 Mei 2012. Acara berbasis komunitas ini menampilkan pameran batik, gelar kreativitas pelajar, lomba desain motif batik Betawi, dan sebagainya. 

"Sejak ajang pertama, daerah ini sudah memiliki setidaknya 7 gerai yang menjual batik. Harapannya mereka akan terus bertumbuh dan meningkatkan penghidupan masyarakat daerah ini. Lalu ada 2 sanggar batik yang didirikan; Sanggar Setapak dan yang terbaru, Sanggar Cantingku. Anggotanya adalah masyarakat dan anak-anak. Kami juga sering mengundang perajin dari berbagai daerah," jelas Bimo. 

Tahun lalu, Kampung Batik Jakarta ini sempat mencatat nama di Museum Rekor Indonesia dengan menciptakan coretan batik di jalan terpanjang, yakni 133,9 meter. 

Dari sana, mulai terlihat pemberitaan-pemberitaan tentang daerah ini. Gerakan yang awalnya hanya berupa swadaya masyarakat ini pun mulai menarik perhatian. Sabtu (5/5), produsen cat, Akzonobel, dengan produknya, cat Dulux pun turut mendukung dengan menyumbangkan 20 ribu cat. 

Selain mendirikan sanggar-sanggar membatik untuk belajar batik bagi warga-warga di sekitarnya, daerah ini juga melakukan pengecatan motif batik di dinding-dinding rumah warga, sebagian jalanan, dan wilayah sekitarnya. 

Mengakui pihaknya mengambil inspirasi dari kampung-kampung batik yang sudah ada, Bimo mengatakan, Jakarta punya tantangan lebih besar karena bukan berdasar dari perajin. Karena itu ia yang merasa sudah memperdalam dan memiliki koneksi cukup ke beberapa perajin, diberi tugas untuk mengkoordinasi perajin dari berbagai daerah batik di Indonesia untuk berbagi pelajaran dengan komunitas Kampung Batik di Jakarta. 

Ketika ditanya mengenai komitmen pihak terkait, terutama Pemerintah Daerah Jakarta, saat temu media, Ketua Pelaksana JBC, Budi Haryanto mengungkap, "Sejujurnya, belum ada keterkaitan mengenai hal ini dari pihak Pemda."

Sementara Bimo mengungkap, "Ke depannya mungkin akan diupayakan terus. Kami tidak bisa hanya berempat. Harus ada pendekatan dengan berbagai pihak. Tinggal proses waktu. Kami hanya penggagas awal. Karena ini adalah usaha untuk melestarikan budaya. Milik semua dan butuh bantuan dari semua."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar